Keren Dan Nyaman Dengan Coilover

KEREN DAN NYAMAN DENGAN COILOVER

Pernah dengar istilah Coilover? Ya, coilover adalah piranti suspensi yang satu ini terdiri dari shock absorber dan per yang bisa diatur tinggi rendahnya dengan cara diputar. Coilover singkatan dari “Coil Spring Over Strut”,  pengertian gampangnya sokbreker dengan coil spring (per keong) yang menjadi satu kesatuan dan dipasang pada bagian kaki-kaki mobil.
Sebenarnya coilover ini mulai ramai digunakan di Indonesia sejak akhir ’90-an, kebanyakan pun hanya untuk mobil Jepang saat itu. Sampai sekarang pilihan dan merek semakin banyak pilihannya, mulai dari penggunaan untuk kendaraan harian sampai untuk keperluan balap. Masing-masing punya settingan yang berbeda.
Menurut Nana Budhi Satya, Sales & Marketing Manager Öhlins Indonesia,  “Öhlins tipe-tipe coilovernya ada road and track dan motorsport. Road and track untuk pemakaian harian di mobil umum, sedangkan motorsport untuk penggunaan kompetisi,” ujarnya.
“Untuk penggunaan road and track kita perlu data spek yang lebih detil mengenai mobilnya, misalnya untuk BMW seri 3 F30 terbaru…harus detil,” ujar Nana. Karena ada beberapa coilover yang tidak compatible dengan teknologi mobil itu sendiri. 
Ronny dari SS Performance Shop, Bandung, yang kerap menjual coilover Tein juga menambahkan, “Kalau mau pakai coilover harus jeli dan teliti, jangan sampai salah tipe. Misalnya yang tipe untuk kompetisi malah dipakai untuk di jalan raya, pasti jadi enggak enak karena bukan settingan untuk mobil harian,” ujarnya.
Settingan di coilover ada yang menggunakan tiga settingan yaitu soft, normal, dan hard. Namun ada juga yang settingan full manual seperti di Öhlins, “Itu di bagian kompresinya, mau bantingannya lembut, normal, atau keras bisa diatur,” jelas Nana. Settingan ini biasanya diatur sesuai kebiasaan pengguna mobilnya. 
Nah, coilover ini juga bisa dicustom jeroannya, “Maksudnya yang bisa dicustom itu adalah bagian seperti per, shim rebound, dan shim compression,” tutur Nana. “Kalau per bisa diganti dengan lowering kit atau per yang lebih pendek,” jelas Ronny.
Sedangkan shim rebound atau shim compression bisa di custom tingkat kekerasannya. “Kalau menurut pemilik mobil settingan standarnya kurang lembut atau kurang keras, bisa di custom di dua bagian tadi sampai dapat settingan yang diinginkan,” bilang Nana lagi.
Selain itu tekanan oli juga bisa diminta sesuai keinginan pemilik mobilnya, “Biasanya di custom di bound, rebound, dan pressurenya, bahkan untuk yang pembalap pro bisa dicustom tekanan gasnya juga,” tutur Ronny.
Untuk perawatan coilover, tidak terlalu sulit sebenarnya. “Pastikan shaft-nya selalu bersih, karena kalau ada tumpukan debu yang terlalu tebal bisa merusak sealnya,” tukas Nana. “Jadi kalau habis terkena hujan bagian coilover ini disemprot dengan air yang bertekanan tinggi supaya kotorannya rontok dan tidak menumpuk,” timpal Ronny.
Jika ada dealer resminya, usahakan setiap 30.000 km bawa ke authorized dealernya untuk dicek, “Servisnya bersifat pengecekan dan penggantian olinya, dari situ bisa ketahuan kalau ada kebocoran atau kerusakan lebih awal,” bilang Nana. 
Gejala kerusakan di coilover bisa dideteksi sejak awal. Misalnya saja bantingannya terasa jadi lebih keras atau malah jadi terlalu empuk, “Kalau terasa kedua hal ini biasanya ada kebocoran seal, cepat dibawa ke service centernya” ucapnya. Selain itu mobil terasa ‘melayang’ atau limbung bisa jadi gejala kerusakan coilover juga. “Tapi harus dibarengi pengecekan kondisi kaki-kaki lainnya,” ujarnya.
unnamed (1) unnamed (2) unnamed (3) unnamed (4) unnamed (7) unnamed

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

90 − = 89