Kelebihan dan Kekurangan Datsun GO 2018

Tak lama setelah memperkenalkan Cross awal tahun ini, Datsun meluncurkan GO dan GO+ yang diremajakan, kemarin (7/8). Meski terlihat minimalis, namun GO dan GO+ terbaru mengalami peningkatan kualitas yang cukup signifikan dibanding sebelumnya. Pada artikel ini, kami membahas hatchback 5-pintu, GO. Tak hanya kelebihannya saja, tapi juga kekurangannya.

Kelebihan dan Kekurangan Datsun GO 2018

Dari luar, tak sulit mengenalinya sebagai GO. Karena memang secara umum desainnya tak mengalami perubahan dari sebelumnya. Hanya ada imbuhan berupa aerokit di bagian depan lengkap dengan lampu DRL (Daytime Running Light) LED. Sementara itu, grille dan lampu utamanya tak mengalami perubahan sedikitpun. Meski demikian, aerokit tadi sudah cukup untuk meremajakan tampang GO di 2018.

Perbedaan semakin sulit dikenali di bagian samping. Khusus untuk varian T-Active, ada pemanis berupa side body molding yang membedakannya dari GO lain dan sebelumnya. Sementara pelek yang digunakan masih 14-inci namun berdesain baru. Bagian belakangnya yang mendapat upgrade tampilan cukup dominan. Memang perubahan hanya pada aerokit dan bemper belakang saja. Tapi bemper belakang yang terinspirasi dari desain diffuser itu, sukses mengangkat derajat GO sedikit lebih tinggi dari kelasnya.

Lihat Tampilan Modifikasi atsun DVelg ELE 17 JD839 Ring 17

Soal derajat, memang Datsun GO naik kelas dibanding sebelumnya, khususnya tipe bertransmisi otomatis. Karena GO bertransmisi CVT (Continuous Variable Transmission) bukan lagi LCGC (Low Cost Green Car). Pasalnya, mobil ini tak memenuhi syarat kandungan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah untuk bisa dapat insentif. Menariknya, meski bukan LCGC tapi GO CVT (Rp 142 jutaan) dijual masih lebih murah dibanding pesaingnya, Honda Brio E CVT (Rp 152 jutaan).

Bagusnya, walau lebih murah tapi interiornya tak teralalu jomplang dibanding kompetitornya. Ya sih, kalau Brio sudah punya pengaturan AC dengan tombol dan layar digital. Punya GO masih model putar (kompor gas) seperti Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Tapi, material dashboard mobil ini meningkat drastis dibanding sebelumnya. Apalagi ada ornamen bermotif serat karbon di beberapa bagian kabin.

Lihat Tampilan Mobil Datsun GO Menggunakan Velg TE37 Ring 15

Lihat konsol tengahnya yang sekarang sudah pakai sistem multimedia layar sentuh. Head unit audio miliknya juga sudah dilengkapi konektivitas USB, AUX dan mampu terhubung dengan smartphone lewat fitur miracast. Jadi, sistem multimedianya bisa menampilkan navigasi dari smartphone menggunakan fitur ini. Nilai plus untuk LCGC yang harganya di bawah Rp 150 juta.

Datsun GO
New Datsun GO

Segala kelebihan Datsun GO terbaru memang tersembunyi di balik kulitnya. Struktur rangka miliknya diklaim sudah diperkuat. Lalu banyak peredam yang ditanam untuk membuat kabinnya lebih hening. Kursi bagian depan yang dulunya terhubung sekarang dipisah oleh tuas rem tangan yang tak lagi menyembul dari kolong dashboard. Ini semua menambah kenyamanan penghuni kabin. Apalagi, kualitas bantingan suspensinya pun sekarang mampu meredam guncangan dengan lebih baik.

Mesin, memang masih sama. Berkapasitas 1,2 liter, 3-silinder menghasilkan tenaga 68 PS dengan torsi puncak 104 Nm. Makanya kalau Anda ingin beli GO, pilih varian bertransmisi CVT. Karena untuk tipe ini tenaganya ditingkatkan menjadi 78 PS supaya lebih mumpuni bila digunakan untuk menanjak.

Lihat Tampilan Modifikasi Pelek Standar Datsun GO Dengan L1 JD8659

Fitur yang dimilikinya memang sederhana. Tak ada kamera parkir, tombol audio di lingkar kemudi dan lainnya. Untungnya Datsun sudah memasang power window di setiap pintu, kaca spion dengan pengaturan elektrik dan tentunya wiper belakang. Menariknya, GO dilengkapi dengan fitur lampu utama otomatis yang dapat hidup sendiri saat cahaya di luar masih gelap.

Ya itulah sekilas kelebihan mobil, yang justru sebetulnya tak terlihat. Karena dari luar, menurut kami, mobil ini justru banyak kekurangannya. Handle pintu model jadul kurang atraktif dipandang, tak ada handle untuk membuka pintu bagasi sampai defogger yang absen. Tapi itu semua terbayar oleh harganya yang dimulai dari Rp 102,9 juta sampai Rp 142,1 juta.

Muhammad Iqbal Abdul Ghofur

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010 Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi. Digital Marketer di PT.Visi Media Tara, PT.Setara Media & TKB Group Indonesia.

Tinggalkan Balasan