Inilah 4 Kekurangan DFSK Glory 580

Dua hari bercengkerama bersama DFSK Glory 580, pelbagai kesan didapat. Kelebihan sudah kami utarakan, kini giliran kekurangannya. Mobil ini memang masih jauh dari kata sempurna. Segala sesuatunya tentang merek DFSK di Indonesia ini, masih dalam proses pengembangan. Yang jelas, joint venture dengan nilai investasi besar antara Sokon Group dengan PT. Kaisar Motorindo Industri menyatakan keseriusannya dalam menjajaki pasar otomotif lokal.

Kekurangan pertama soal kualitas material yang digunakan. Meski build quality termasuk bagus dan lapisan metal bodi tebal, material di banyak panel eksterior dan interior Glory 580 terasa murahan bila dillihat atau dipegang. Memang harga yang ditawarkan tergolong murah untuk kelas SUV medium. Namun bila membandingkan dengan mobil di rentang harga sama (Rp 240 – 300 jutaan), banyak yang lebih solid materialnya.

Lalu mengenai desain, terutama eksterior. Tergantung selera memang, tapi menurut kami, rancangan Glory seperti sudah ketinggalan zaman. Sebab banyak bagian yang menyerupai desain mobil lain. Ambil contoh, muka depan mengingatkan Honda CR-V generasi keempat (RM1), Volkswagen Tiguan generasi pertama dan KIA Sportage generasi ketiga. Kemudian bagian samping terutama pilar D, terbesit kemiripan dengan Hyundai Santa Fe. Dan bokongnya jelas sekali terinspirasi Audi Q5.

Faktanya, tidak ada desain mobil Cina yang benar-benar original dan memukau. Dapat dilihat juga di brand Cina lain. Bahkan di negara asalnya, banyak yang nekat mencontek terang-terangan desain mobil Eropa.

Glory 580 dilengkapi fitur seabrek, bahkan ada yang tidak dimiliki kompetitornya. Peranti elektrikal untuk fitur keselamatan, keamanan dan kenyamanan dirasa sangatlah berguna. Tapi ingat,  fitur berlimpah juga bisa menjadi bumerang. Semakin banyak fitur, makin banyak pula peluang kerusakannya.

Nah, ada satu fitur cukup penting malah terlupakan. DFSK justru tidak memberikan informasi konsumsi bahan bakar baik real time maupun rata-rata di bagian Multi-Information Display (MID). Sehingga bila ingin mengetahui berapa konsumsi bahan bakar dihasilkan dari gaya mengemudi , harus menghitung melalui metode full-to-full.

Terakhir soal brand image dan layanan purnajual. Masih banyak orang yang sama sekali belum mengenal merek DFSK. Ditambah lagi, harus menghadapi sikap skeptis tentang merek Cina selama ini. Belum pertanyaan tentang durabilitas dan reliabilitas produk yang baru terjawab beberapa tahun ke depan. Untuk meyakinkan calon konsumen, PT Sokonindo Automobile berani memberi garansi selama 7 tahun atau 150.000 km.

Tapi juga harus diiringi jaringan purnajual yang banyak. Saat ini memang masih sangat sedikit. DFSK menjanjikan 50 diler resmi dibuka hingga akhir tahun ini. Yang pasti, masih banyak pekerjaan rumah dan pembenahan di segala sektor bagi DFSK, bila ingin bertahan di kejamnya pasar otomotif Indonesia.

Muhammad Iqbal Abdul Ghofur

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2010 Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Ilmu Dakwah & Ilmu Komunikasi. Digital Marketer di PT.Visi Media Tara, PT.Setara Media & TKB Group Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *